Bermimpi Layak

Salah satu mozaik terbaik dalam hidup saya.

Semua berawal dari sekitar bulan januari-februari 2009. Waktu itu saya sudah menginjak semester terakhir di SMA. Saat-saat itu adalah hal-hal yang paling menentukan bagi saya dan teman-teman seangkatan dalam mengejar impian kuliah masing-masing. Ada yang memiliki target biasa-biasa saja, ada yang lulus SMA saja sudah syukur, dan ada juga yang mengimpikan untuk kuliah di perguruan-perguruan tinggi yang tekenal di Jawa. Hal yang saya banggakan dari diri saya adalah waktu itu saya memilih bermimpi yang besar. Saya canangkan target untuk bisa tembus kuliah di ITB atau ITS, dan jurusan yang saya bidik tidak main-main; Teknik Informatika. Setidaknya ada tiga alasan yang membuat saya memilih jurusan ini: 1) passing grade tertinggi, 2) berhubungan dengan matematika dan logika (2 kemampuan terbaik saya, diluar main bola), dan 3) tingkat pengangguran lulusannya 0%.

Sebenarnya kalau dilihat dari prestasi akademik saya selama SMA, target tersebut tentu cukup sulit. Jujur, nilai rapor saya jatuh selama tiga tahun terakhir. Nilai pas-pasan, rata-rata 70-an dan ranking kelas di urutan-urutan terakhir. Tapi semua itu hanyalah hitam di atas putih. Saya merasa angka-angka tersebut tidak menggambarkan kemampuan otak saya yang sesungguhnya. Saya merasa saya sebenarnya tidak kalah cerdas dengan teman-teman saya yang memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Maka mulai saat itu saya tuliskan target saya besar-besar pada papan tulis di dinding kamar saya. TAKE IT BACK! IT’S YOURS. Kalimat ini bermakna penting bagi saya. Yang saya maksudkan bukan hanya target-target yang tertulis secara tersirat (ITB dan ITS. Teliti lagi kalimatnya.), tapi tentang sebuah kerinduan besar untuk kembali berprestasi secara akademik, seperti yang saya perlihatkan ketika SD dan SMP dulu.

Setelah mencanangkan target, saya mulai merancang rencana pembelajaran mandiri saya. Waktu itu saya memilih untuk tidak mengikuti bimbingan belajar mana pun karena memang saya kurang cocok dengan sistem pembelajaran kelas. Saya merasa lebih nyaman dan efektif jika belajar sendiri, dengan ditemani buku-buku yang bagus. Maka dari itu saya kumpulkan semua buku-buku pelajaran saya mulai dari kelas 1 SMA sampai 3 SMA. Saya juga membeli buku-buku ringkasan dan tips-tips yang saya rasa bagus (dan memang dewasa ini sudah banyak buku-buku cerdas yang mengajarkan cara cepat memahami mata pelajaran-mata pelajaran SMA). Saya targetkan bisa melahap habis semua pelajaran tiga tahun selama sekitar 3 bulan ke depan. Untuk bisa cepat mengetahui progress pembelajaran mandiri saya, saya list semua bab-bab setiap mata pelajaran pada whiteboard di dinding kamar saya. Setiap saya telah menyelesaikan satu bab, saya coretlah judul bab tersebut yang tertulis di whiteboard. Dengan ini maka saya bisa mengatur waktu untuk menyesuaikan dengan sisa bab-bab yang ada.

Tips lain yang saya gunakan selama pembelajaran mandiri saya adalah membuat buku catatan ukuran kecil untuk setiap mata pelajaran utama. Buku catatan mini ini tersusun dari kertas-kertas kecil dari potongan kertas HVS A4 yang dibagi 4. Saya mencatat semua poin-poin penting yang telah saya pelajari disertai dengan penjelasan singkat yang saya sadur sendiri dan saya atur supaya mudah diingat.

Maka dengan segenap kerja keras selama sekitar 3 bulan saya telah berhasil menyelesaikan semua bab pada setiap mata pelajaran utama. Selama 3 bulan tersebut tentu saya tidak hanya belajar mandiri. Seringkali pula saya mengadakan belajar kelompok dengan teman-teman lainnya. Selain memperoleh ilmu-ilmu baru, dengan belajar kelompok saya juga bisa membantu-bantu teman yang kesulitan memahami pelajaran tertentu, atau bisa dibilang “Sedekah Ilmu” lah. Dengan sedekah ilmu insyaAllah ilmu kita sendiri pun akan bertambah banyak dan berkah.

Tidak lupa juga di 3 bulan tersebut saya selingi dengan keluar refreshing bersama keluarga atau teman-teman. Ini bagus untuk menghindari kejenuhan dalam belajar. Tempat favorit saya adalah pantai. Dengan menikmati keindahan alam bisa membuat hati saya merasa damai dan semua beban seperti terangkat. Menjaga hati tetap tenang tentu sangat penting dalam menghadapi masa-masa tak menentu waktu itu. Ada juga kisah yang sangat berkesan yang saya dan teman-teman alami ketika di pantai. Waktu itu kami membawa beberapa nasi bungkus dari kota untuk dimakan di pantai. Setelah makan-makan ternyata masih tersisa dua bungkus nasi. Tak berapa lama datanglah seorang ibu tua meminta sedekah. Maka kami berilah dua nasi bungkus. Ibu tua tersebut lalu spontan mendoakan kita agar bisa lulus. Doa yang sangat tepat untuk kami yang waktu itu beberapa hari lagi akan diumumkan hasil SNMPTN. Berhubungan atau tidak, alhamdulillah, saya dan semua teman saya ini akhirnya memang lulus SNMPTN untuk pilihan pertama masing-masing. Bagi saya, sedikit banyak kelulusan kami memang berkat sedekah spontan itu. Maka sejak itu saya juga semakin yakin akan dahsyatnya kekuatan sedekah.

Maka akhirnya saya berhasil memenuhi target saya. Bukan ITB memang, tapi saya rasa Teknik Informatika ITS juga tidak kalah hebat. Jangan dikira mudah, semua adalah hasil dari kombinasi tekad yang kuat, kerja keras, doa dari keluarga, dan banyak aspek-aspek super lainnya.

Bermimpi besarlah, hingga nanti ketika kita berhasil memperolehnya maka sesungguhnya mimpi tersebut tidaklah sebesar yang kita kira dulu, tapi memang sesuatu yang layak kita dapatkan karena semua kerja keras kita.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under My Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s