Film ‘?’ dan Pluralisme

Baru-baru ini, sutradara film Hanung Brahmantyo mengeluarkan karya film terbaru berjudul “?” (Tanda Tanya). Saya mengutip tulisan dari saudara Desastian di situs voa-islam.com yang berjudul “Menyoal Film Pluralisme ‘Tanda Tanya’ Garapan Hanung”, yang menanggapi trailer film tersebut.

“Kemajemukan itu terlihat, ketika tiga keluarga dengan latar belakang yang berbeda saling berinteraksi. Keluarga Tan Kat Sun memiliki restauran masakan Cina yang tidak halal, Keluarga Soleh dengan masalah kepala keluarga yang tidak bekerja namun memiliki istri yang cantik dan solehah.

Kemudian, Keluarga Rika, seorang janda dengan seorang anak, yang berhubungan dengan Surya, pemuda yang belum pernah menikah. Di film berdurasi 100 menit ini pula, dipaparkan hubungan antar keluarga ini berkaitan dengan masalah perbedaan pandangan, status, agama dan suku.

Dalam trailernya itu ditampilkan beberapa tempat ibadah mulai dari gereja, masjid, dan kelenteng. Dari situ saja sudah bisa disimpulkan bahwa tema yang diangkat oleh Hanung terasa sangat berbahaya karena terasa akan mengundang kontroversi nantinya.

Dilanjutkan dengan sedikit konflik cerita yang masih samar-samar dalam trailer itu, konflik yang sudah pasti tentang sikap toleransi. Dari percakapan yang terdengar, sepertinya akan ada pernikahan yang berujung perpisahan, akan ada seorang tokoh yang melakukan pindah agama dan ada juga konflik yang menggambarkan permasalahan keluarga yang sangat menghebohkan. Juga terlihat beberapa adegan kekerasan, pertengkaran mulut dan derai air mata menyertai cerita dalam film ini.

Dan trailer ini di akhiri dengan pertanyaan, “Apa itu Islam Pak Ustad? Sebuah tanda tanya yang membuat semua orang yang melihat trailer ini mengeluarkan tanda tanya yang sangat besar, seperti apa film ini nantinya. Dalam film itu pula menyisakan pertanyaan besar, “Masih pentingkah kita berbeda?””

Saya sudah menonton trailer film ‘?’, dan saya sepaham dengan pandangan Desastian. Dan yang paling mengambil perhatian saya adalah pertanyaan pada cover gambar film “Masih pentingkah kita berbeda?” Saya seorang muslim, dan akan menanggapi dari sudut pandang Islam. Islam telah sangat tegas dan jelas tentang akidah yang benar, yang harus dipegang oleh seluruh muslim. Kalau tidak, keimanan mereka pudar. Berikut petikan sebuah surah al-Qur’an.

Surat Al Kafirun

Dengan nama Allah, Yang Pemurah, Yang Pengasih.

Katakanlah, “Wahai orang-orang yang tidak beriman,

Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah,

Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah,

Dan tidak juga aku menyembah apa yang kamu sembah,

Dan tidak juga kamu menyembah apa yang aku sembah.

Bagi kamu agama kamu, dan bagiku agamaku!”

Surat ini tegas menjelaskan bagaimana seorang Muslim harus bersikap terhadap orang kafir dan menjaga batasan akidah mereka. Sederhananya, akidah orang Islam: di luar Islam adalah kafir, dan tidak masuk surga. Murtad (keluar Islam) adalah kafir, dan jika tidak kembali ke Islam dan mati dalam keadaan kafir, ia masuk neraka, dan kekal selama-lamanya. Maka dari itu, sangat penting sekali buat ustad-ustad, ulama-ulama, dan tokoh agama Islam untuk mengingatkan umat muslim tentang bahaya paham pluralisme. Menurut pluralisme, semua agama itu benar. Semua pemeluk agama apa pun, yang penting dia melakukan kebaikan, maka dia benar, dan masuk surga. Dalam ajaran Islam, ini pemahaman yang sungguh salah dan sangat berbahaya. Plurisme mendorong orang Islam untuk murtad. Dan film ‘?’ mengandung paham pluralisme berbahaya itu. Berikut tanggapan Dr. Adian Husaini mengenai film ini. Saya kutip dari hidayatullah.com.

“Pakar pemikiran Islam, Dr Adian Husaini punya kesan sendiri setelah melihat langsung film karya Hanung Bramantyo berjudul ‘?’ (baca: Tanda Tanya) yang mulai menghiasi layar lebar di Indonesia pada 7 April 2011 lalu.

Menurutnya, film ini jelas-jelas sebuah kampanye pluralimse yang vulgar.

“Jelas kampanye pluralisme, malah pluralisme yang vulgar,” ujar Adian.

Peniliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations(INSISTS) ini menambahkan, dalam pandangan Islam, orang Murtad itu sangat serius, tidak bisa dianggap main-main. Dalam Islam, orang murtad itu dianggap kafir dan kata kafir itu bukan kata main-main.

“Setelah saya melihat trailer film ini yang lebih dulu disebarkan di YouTube, hingga menonton langsung filmnya malam ini, jelas sekali, film ini sangat merusak, berlebihan, dan melampaui batas.”

Menurut pria yang juga kolumnis tetap di hidayatullah.com ini pesan dalam film ini ingin memberikan kerukunan, tetapi justru memberikan streotype(cap) yang buruk pada Islam,

Misalnya; kasus menusuk pendeta, mengebom gereja dll. Kasus-kasus itu kemudian diangkat menjadi sterotype. Menurut Adian, peran-peran Islam juga digambarkan dengan buruk. Orang murtad dari Islam dianggambarkan sebagai hal yang wajar saja, juga semua agama digambarkan menuju tuhan yang sama.

“Dalam film ini, dibuat seolah orang keluar dari agama Islam itu sesuatu yang biasa saja,” katanya.”

Beberapa tokoh Islam lainnya juga menanggapi film ini, seperti bisa dilihat pada: komentar Chaerul Umam, komentar Prof. Dr. Yunahar Ilyas, dan komentar Dr Hamid Fahmy Zarkasyi.

Fenomena seperti ini sudah disampaikan oleh Allah swt. melalui kitab suci al-Qur’an.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”[Quran Surat 6:112]

Penting sekali untuk menjaga akidah kita, jangan sampai salah. Dan saya ingin sampaikan ini lebih khusus kepada pemuda muslim muslimah Indonesia. Kita tinggal di negara yang mengakui 5 agama. Kita memiliki toleransi yang baik antar-agama dalam kehidupan sosial. Di sekolah dan kampus, kita bergaul dengan teman-teman yang bukan muslim. Dan kita baik-baik saja, kita tetap dapat hidup rukun dan damai. Maka tetaplah seperti itu. Tetapi ada saat-saat dan tempat-tempat dimana kita berbeda. Kita dilarang oleh Islam ikut merayakan hari raya agama lain, bahkan walau hanya mengucapkan selamat kepada mereka. Kita dilarang pacaran dalam Islam, apalagi berpacaran dengan orang beragama lain.

Islam adalah agama rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam. Menjalankan Islam yang benar bukan berarti melukai perasaan apalagi menindas hak-hak orang non-islam. Maka marilah kita semakin mendalami pemahaman Islam kita. Marilah lebih sering membaca al-Quran, mengikuti kajian-kajian agama, dan membaca buku-buku Islam. Ilmu yang benar dapat menjaga kita dari hal-hal yang tidak benar sehingga kita dapat menjalani hidup dengan benar pula. Dan ilmu yang benar (satu-satunya benar) itu adalah dari Allah melalui al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu ‘alam.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Random

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s