Kapan Giliran Kami Ibu?

Ibu, durhaka sekali rasanya aku ini sebagai anakmu

Dari masih dalam perut aku sudah merepotkanmu

Waktu lahir juga, sakit sekali pasti kau rasa

Dan waktu bayi, tak terhitung berapa kali aku merengek dan menyusahkanmu

Aku juga ingat masa-masa kekanak-kanakanku dulu, kalau mau apa saja harus dibeliin

Terlalu sabar ibu merawatku, terlalu

Wah apalagi SMP, nakal sekali aku ini, prestasi sekolah jelek pula, apa yang bisa dibanggakan?

SMA hampir sama saja, malah udah berani ngomong hebat aku kepadamu, merasa paling pintar

Ibu.. durhaka sekali ini aku ibu..

Sekarang dimana coba aku.. pergi merantau jauh dari ibu

Uda gak jelas lagi bisa pulang bawa apa, ip pas-pasan

Padahal aku tahu, ibu pasti butuh anaknya disamping ibu

Untuk sekedar memberikan rasa kehadiran seorang anak yang mungkin hanya itu yang Ibu inginkan

Habis ini, bahkan mungkin tambah pergi jauh aku, ke luar negeri cita-citanya

ya mungkin 2 atau 3 tahunlah merantau

Trus setelah itu cari pekerjaanlah atau nikahlah, sibuk oleh diri sendiri saja aku ini ibu

Lalu,

Ibu, kapan giliranku untuk membalas semua kasih sayang ibu?

– dari anakmu yang bisanya paling cuman mijat pundak ibu jika kelelahan

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s