Jauh Lagi

Ini sudah semester 6, seharusnya sudah biasa, tapi tetap saja kaki ini berat untuk melangkah pergi.

Pagi itu, 9/2/12, liburan saya di kampung halaman tercinta, Kota Mataram, berakhir sudah. Seperti biasa keluarga full tim mengantar saya sampai ke bandara. Saya masuk terlebih dulu untuk check in kemudian keluar lagi menunggu waktu flight bersama keluarga di luar pintu keberangkatan. Saat-saat seperti inilah yang paling saya tidak sukai. Menunggu flight ke Surabaya.

Pada waktu itu saya tidak banyak berbicara. Yang ada hanya bicara pada diri sendiri dalam alam pikir saya.

Bagaimana keadaan keluarga nanti selama saya tidak ada?

Saya sebagai anak laki-laki satu-satunya kok malah pergi merantau? Tanggung jawab saya terhadap saudara-saudara perempuan saya bagaimana?

Setelah di Surabaya nanti paling interaksi yang ada dengan keluarga hanya sebatas komunikasi lewat sms dan telefon. Hanya sebatas itu. 

Saya tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang membantu keseharian keluarga. Yang sederhana saja seperti mengantar ibu dan adik ke sekolah pagi-pagi. Atau membelikan makan malam untuk keluarga apabila ibu tidak memasak. Ini mungkin sederhana tapi penting untuk hanya meringankan beban keluarga.

Apalagi apabila terjadi hal-hal yang darurat terhadap keluarga, apa yang bisa saya lakukan? Saya tidak bisa menjadi orang pertama yang bergerak menyelesaikan.

Sebelum semua gundah gulana ini berakhir, waktu flight sudah akan segera tiba. Mau tidak mau saya harus kuat. Saya pamit terhadap keluarga. Saya mencium tangan ayah, mama, kakak dan kedua adek saya mencium tangan saya.  Saya masih sulit untuk mengucap kata karena takut air mata jatuh. Keluarga saya paham. Keluarga juga merasakan hal yang sama. Rasa rindu kami sudah datang bahkan sejak saya baru akan melangkahkan kaki untuk pergi.

Di ruang tunggu, saya akhirnya menitikkan air mata. Bapak, mama, kak ika, imong, adek… sampai jumpa lima bulan lagi. Jemput lagi nanti di bandara ya. :’) Babang sayang semua.

Jauh dari keluarga, satu-satunya yang bisa membuat tenang adalah doa. Semoga Allah menjaga kita semua.

Iklan

1 Komentar

Filed under My Story

One response to “Jauh Lagi

  1. asa ikut sedih,
    tapi saya juga sedih siy, pisah dr keluarga meski cuma jateng-jabar yg relatif msh 1 pulau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s