Syariah Dulu atau Khilafah Dulu?

Salah satu tugas dakwah seorang muslim adalah menegakkan syariah. Kita harus percaya bahwa kehidupan yang lebih baik hanya bisa digapai apabila hukum dari Allah ini diterapkan. Saya mengenal setidaknya ada dua harakah atau pergerakan Islam yang mempunyai misi yang sama yaitu menegakkan syariah ini.

Pergerakan yang satu sangat vokal dan lantang dalam menyuarakan syariah dan juga khilafah. Di setiap unjuk rasa atau aksi damai pergerakan ini selalu terdengar slogan “Tegakkan syariah dan khilafah”. Di media cetak yang mereka terbitkan juga ketika membahas permasalahan negara Indonesia maka di akhir artikel selalu ditekankan bahwa solusinya adalah “Tegakkan syariah dan khilafah”. Bagi mereka syariah dan khilafah adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Namun walau mengaku sebagai partai politik, pergerakan ini tidak pernah masuk ke dalam ranah perpolitikan nasional. Kader-kadernya juga tidak aktif dalam pemerintahan. Mereka lebih kepada penyadaran ke masyarakat tentang pentingnya syariah dan khilafah serta merekrut orang-orang untuk masuk ke dalam organisasi mereka.

Sementara pergerakan yang satunya walau tidak terlalu menggembar-gemborkan masalah penegakan syariah, kader-kadernya terlihat aktif dimana saja. Mereka bergerak di mana saja, seperti di organisasi-organisasi kampus, lembaga-lembaga kemasyarakatan, dan institusi-institusi pemerintahan. Pergerakan ini juga memiliki partai politik yang cukup mapan di pemerintahan. Selain itu mereka juga bekerja di tingkat grass root dan membina mentoring anggota-anggotanya. Bagi mereka tidak penting apakah dengan khilafah atau tidak, upaya penegakan syariat tetap dijalankan walaupun secara bertahap.

Saya pun bukan anggota dari salah satu pergerakan Islam di atas. Saya hanya mengamati dan menilai dengan pemahaman saya sendiri. Jadi coba kembali ke pertanyaan besarnya, syariah dulu atau kilafah dulu?  Dan menurut saya…

Pertama, apabila kita ingin merubah suatu sistem, kita harus mau masuk dan merubah dari dalam. Pemahaman ini saya peroleh dari kampus. Saya tidak aktif di organisasi kemahasiswaan di tingkat jurusan dan tingkat universitas. Dari itu saya sadar bahwa saya tidak punya posisi atau kekuasaan yang banyak untuk berbuat ketika ada suatu permasalahan terjadi di kampus. Contohnya adalah sistem pengkaderan di jurusan yang saya anggap tidak mendidik. Karena saya bukan anggota himpunan, saya tidak punya power untuk merubah sistem pengkaderan itu menjadi lebih baik, walaupun keinginan saya kuat.

Kedua, kita ambil contoh dari dua negara Islam yang lain yaitu Turki dan Mesir. Kedua pemimpin pemerintahan dari kedua negara tersebut merupakan kader yang diusung oleh partai politik Islam di negeri masing-masing. Mereka adalah Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan dari partai Keadilan dan Pembangunan dan Presiden Mesir Mohammad Mursi dari partai Kebebasan dan Keadilan. Kedua partai tersebut merupakan partai Islam walaupun tidak kental slogan Islamnya. Tapi lihatlah sekarang. Erdogan dengan kekuasaannya berhasil melakukan perubahan yang baik untuk Turki dan kehidupan Islam di sana. Erdogan dengan tegas melarang prostitusi dan minuman keras di Turki serta memperbolehkan kembali pemakaian jilbab di sekolah-sekolah, kantor-kantor dan tempat-tempat publik. Presiden Mursi juga berhasil mengangkat Mesir dari keterpurukan. Prestasi-prestasi beliau bisa dilihat di sini. Artinya bahwa perjuangan syariat Islam dapat diperjuangkan walaupun tanpa khilafah sekalipun.

Saya berharap apa yang terjadi di Turki dan Mesir dapat terjadi juga di Indonesia. Sebuah partai politik Islam berhasil meraih kekuasaan tertinggi di pemerintahan. Kemudian kita berharap upaya penegakan syariat semakin dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika sistem syariat sudah kuat tentu khilafah segera dapat ditegakkan di dunia. Allahu akbar!

Iklan

6 Komentar

Filed under Random

6 responses to “Syariah Dulu atau Khilafah Dulu?

  1. harapan yg sama dari saaiaah ^^

  2. faktanya, PKS sampai saat ini tidak pernah menyuarakan lagi hukum syariah setelah mereka menjabat, pun demikian dgn ikhwanul muslimin disana.
    jadi sebenarnya satu paket itu memang benar adanya, sba perlihatkan kepada saya mana negara demokrasi yang menerapkan syariah Islam?
    bukankah yang terpenting itu menerapkan syariat Islam? ya..memang benar, namun demikian ada sebuah kaidah yang menyatakan, sesuatu tertentu akan sempurna mana kala ada sesuatu yang lain. maka sesuatu yang lain itupun merupakan sebuah kewajiban.

    jadi, logikanya, syariat islam sepanjang sejarahnya menganut sistem negara kekhilafahan dan belum pernah ada yang lain. maka sangatlah logis keduanya adalah satu kesatuan yang tdk bsa dipisahkan sama halnya seperti Al-Qur’an dengan bahasa arab ataupun Islam dgn bahasa arab krn wahyu yg diturunkan dalam bahasa arab.

  3. Same here, setuju dengan pandangannya.

    Beruntunglah ada orang-orang Islam yang masih mau duduk di pemerintahan. Karena pemerintahan itu isinya macem-macem, ada merah, kuning, hijau, biru, kotak-kotak, dan sebagainya, tentu isi otaknya juga macem-macem. Ada yang lurus ada yang nyleneh.

    Coba kalo orang-orang Islam ga ada yang duduk di pemerintahan, gimana mau nglurusin yang nyleneh? Ambil contoh pada RUU kesetaraan gender yang pernah diusulkan. RUU ini setelah dikaji banyak bertentangan dengan pakem yang sudah terbentuk di masyarakat, termasuk agama. Gimana kalo UU ini akhirnya disahkan karena ga ada yang nyangkal / gak setuju? Feminis-feminis, liberalis-liberalis di luar sana pasti jingkrak2 senang deh, dapat kebebasan. Tentu, karena mereka gak suka dengan UU yang “berbau syariah”. Termasuk kita ingat, UU tentang pornografi dan pornoaksi.

    Benahi dari dalam, biarkan yang lain melihat hasilnya :p

  4. hoho…..mantan ketua PKS kini dijadikan tersangka kasus korupsi impur daging. ckckck….
    memang, stiap orang yang duduk di kekuasaan demokrasi tdk akan pernah bersih. sbb sistemnya pun kotor. maka, syp pun yg masuk ke dalam nya akan ikut ktor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s