(Ketika) Sulit Mencari Orang Miskin

Adalah suatu dambaan ketika amil zakat dibikin pusing untuk mencari fakir dan miskin karena tak ada lagi fakir dan miskin di negeri ini. Mendambakan ketika zakat yang sudah banyak terkumpul menumpuk di badan amil zakat. Sebuah khayalan? Tidak! Ini bukan sebuah khayalan. Hal ini sudah terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah menggantikan Khalifah Sulaiman yang wafat pada tahun 716 M. Ia diangkat sebagai khalifah pada hari Jumat setelah salat Jumat. Hari itu juga setelah ashar, rakyat dapat langsung merasakan perubahan kebijakan khalifah baru ini. Kecerdasannya dalam mengelola perekonomian kekhalifahan (negara) membuat rakyatnya makmur dan merasa tidak perlu menerima pembagian zakat dan sedekah. Hal ini membuat Khalifah Umar dan jajarannya harus keluar dari Madinah untuk mencari orang yang pantas untuk menerima zakat. Khalifah Umar mengutus jajarannya ke Afrika untuk mencari orang fakir dan miskin. Hasil tetap nihil.

Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata, “Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan-nya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli budak lalu memerdekakannya.” (Al-Qaradhawi, 1995).

Begitu juga di daerah lain, seperti di Irak, Iran, dan daerah kekuasaan kekhalifahan lainnya tidak ditemukan lagi orang-orang fakir miskin. Tidak hanya orang miskin, tapi asnaf yang lain juga merasa tidak berhak untuk menerima zakat, karena kehidupan mereka memang sudah sejahtera. Apa yang telah dilakukan oleh Umar? Umar melakukan reformasi di segala bidang, yaitu keagamaan, politik sosial, ekonomi, dan budaya. Umar mengelola zakat dengan professional, yaitu menyalurkan zakat dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan kajian-kajian ilmiah, serta melakukan pemberdayaan ekonomi.

Pendidikan yang diadakan oleh Umar adalah pendidikan yang berkarakter, yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tapi juga tentang pendidikan moral budaya. Hasilnya adalah, masyarakat saat itu menjadi masyarakat yang mandiri lagi cerdas. Kemudian, zakat yang telah terkumpul disalurkan dengan pemberdayaan ekonomi. Seperti memberikan modal berdagang sekaligus memberikan pendampingan. Setelah mereka jaya dalam perniagaan mereka, mereka merasa malu untuk turut serta dalam memanfaatkan zakat. Untuk selanjutnya, mereka menjadi muzakki.

Sumber

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Ibrah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s