Bertahan di Puncak Itu Lebih Sulit

Dikutip dari facebook note-nya Pahlevi Fikri Auliya

“Sesungguhnya mencapai puncak itu sulit, tetapi bertahan tetap dipuncak itu lebih sulit.”

Saudaraku,

Ternyata hanya mengetahui suatu kemaksiatan dan mengetahui bahayanya, tidak otomatis menjadikan orang menjauhi maksiat dan meninggalkan kemaksiatan itu. Lihatlah betapa banyak justru yang berilmu melakukan kemaksiatan lebih besar daripada orang yang tidak berilmu. Berapa banyak justru orang yang mengetahui bahaya kemaksiatan itu, terjerumus dilumpur kemaksiatan yang sama.

Saudaraku,

Merubah diri dari lalai menjadi taat memang tidak mudah. Mengangkat kaki dari suatu kekeliruan yang sudah lama dilakukan, lalu memindahkannya ke atas jalan yang benar dan baik, itu sulit. Justru masalah inilah yang pertama kali harus kita sadari dalam-dalam. Seperti dikatakan Imam Ibnul Jauzi, “Jangan sekali-kali engkau menganggap jalan (merubah diri menjadi lebih baik) itu mudah”. Jalan itu dipenuhi oleh sesuatu yang kita benci, banyak halangan, penuh duri-duri tajam yang bisa membuat kita sakit.

Hanya saja ketika kita sudah berhasil melewatinya, kita pasti akan melupakan seluruh rasa sakit, seluruh keletihan itu. Jika telah melewatinya, kita akan merasakan kelezatan yang tak terbandingkan oleh kelezatan manapun dari kelezatan duniawi yang pernah kita rasakan.

Saudaraku,

Mari kita dengarkan indahnya uraian nasihat imam Ibnul Jauzi dalam kitab Shaidul Khatir tentang tahapan perjalanan yang harus kita lakukan untuk menjadi lebih baik.

Menurut Ibnul Jauzi, yang harus kita lakukan pertama adalah memperbanyak diam untuk melatih jiwa agar tidak banyak mengeluarkan komentar dan tidak mudah bergolak, sehingga lisan kita juga lebih banyak diam. “Sesungguhnya lisan akan cenderung diam, jika jiwa tidak bergejolak. Dalam diam itu engkau akan lebih bisa meraba keburukan. Jika engkau sudah bisa merabanya, maka jiwa akan luluh dan hancur, lalu menyadari bahwa dirimu berada di jalan yang berlawanan dari kehendak Allah. Setelah itu, ingatkanlah jiwa dengan kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan, satu persatu. Kenalilah apa akibat setiap kekeliruan itu, sampai benar-benar disadari.”

Lupakan ketaatan kita saudaraku,

“Jika engkau menyadari diri telah lalai dan melakukan dosa, jadikan dirimu bisa berlama-lama mengingat dosa itu, dan besar-besarkan ingatan akan akibat dari kelalaian itu, dan besar-besarkan ingatan tentang akibat dari kelalaian itu. Munculkanlah anggapan seolah kita tidak melakukan ketaatan apa-apa kecuali kemaksiatan itu. Lupakanlah ketaatan yang pernah engkau lakukan. Sampai engkau akan hancur bila tidak segera bertaubat. Sampai suara hati kita berteriak dan menangis”

“Tetapi, jika jiwamu tidak bangkit, dan air mata tidak mengucur juga, sampaikanlah kepada hati dan jiwa bahwa engkau tetap harus melepas diri dari kemaksiatan itu. Dan langkah ini takkan terjadi kecuali jika engkau tinggalkan semua sebab kemaksiatan, meninggalkan semua orang, semua teman, semua benda yang menjadi sebab dan tangga maksiat. Beritakanlah pada jiwa, bahwa engkau tidak akan bisa bertaubat dengan sah kecuali dengan meninggalkan semua itu.”

Langkah berikutnya,

Lemahkanlah jiwa dengan rasa lapar. Ibnul Jauzi mengatakan, “Jika jiwamu masih belum bisa melakukan itu dan menolaknya, maka hancurkanlah kekerasan jiwa itu dengan memperbanyak puasa, hinakanlah ia dengan rasa lapar. Karena sesungguhnya jiwa jika mengalami sakit karena lapar, ia akan tunduk, mau mendengar dan cenderung pasrah untuk menerima apa saja.”

Perangi sikap menunda-nunda. Ini nasihat Ibnul Jauzi selanjutnya. Bahwa tekad meninggakan kemaksiatan itu sangat rentan dengan gangguan menunda-nunda, dengan seribu satu alasan. “jika engkau mendapati jiwa ingin menunda-nunda untuk kembali, dan membayangkan waktu panjang atau pendek, bawalah ia secara paksa untuk mengingat tak ada ajal yang bisa diperkirakan. Bahwa mungkin saja ajal itu datang kepada jiwa sebelum ia menunaikan keinginannya kembali. Lalu ulangi lagi katakan pada jiwamu tentang hukuman dan kengerian.”

Saudaraku,

Jiwa yang sudah dikosongkan dari kemaksiatan harus segera diisi dengan kebalikan apa yang telah ditinggalkan. Imam Ibnul Jauzi menganjurkan kita untuk mencari teman untuk jiwamu yang bisa memberi petunjuk, daripada teman yang bisa melupakan. Katanya, “Ajarkan dia berdzikir untuk mengganti kelalaian dan kelupaan. Paksa dia untuk teliti dan berfikir daripada ceroboh dan terburu-buru. Beri dia kelezatan bermunajat kepada Allah swt, nikmatnya membaca kitab-Nya serta mempelajari ilmu pengetahuan. Kenali dia dengan sirah orang-orang yang shalih dan bagaimana akhlak mereka. Lakukan itu untuk mengisi kekosongan karena ia telah meninggalkan suasana kebatilan, lingkungan orang-orang yeng merusak.”

Saudaraku,

Jika ini bisa kita lakukan, kelak cahaya ketaatan pengganti kelalaian itu akan terus merasuki jiwa dan semakin bersinar-sinar mengusir kegelapan hawa nafsu.

Kita akan menjadikan ketaatan sebagai tabiat dan hal yang biasa. Sebagaimana juga, dahulu, kemaksiatan itu telah menjadi tabiat dan hal yang biasa bagi jiwa kita.

Saudaraku,

Tapi jangan anggap ini adalah akhir dari jalan perubahan kita. Karena, seperti juga dinasihatkan oleh Ibnul Jauzi,

Sesungguhnya mencapai puncak itu sulit, tapi bertahan tetap dipuncak itu lebih sulit.”

Dan kita akan tetap bertahan untuk berada di sini bersama-sama. Menarik dan mengangkat diri kita bersama-sama hingga keadaan kita semakin tinggi. Lalu saling berpegangan tangan saat dihempas ujian dan fitnah, agar tidak jatuh.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Ibrah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s