Adab Silaturahim

Silaturahim merupakan amalan yang dianjurkan oleh Islam. Rasulullah saw. mengungkapkan bahwa orang yang gemar bersilaturahim akan diluaskan rezeki dan dipanjangkan usianya. Beliau saw. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menyambung tali silaturahim…” (Riwayat Bukhari)

Berikut beberapa adab yang perlu diperharikan agar silaturahim memberi manfaat dunia dan akhirat.

Pertama, niat ikhlas. Seseorang yang melakukan silaturahim hendaknya diniatkan untuk mencari ridha Allah semata. Allah swt. berfirman, “Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (Al-Lail[92]: 19 – 20)

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menengok orang sakit atau menziarahi saudaranya karena Allah Ta’ala, maka datanglah penyeru yang menyerukan; ‘Engkau baik, dan langkahmu juga baik dan engkau akan masuk surga sebagai tempat tinggal.” (Riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kedua, memulai dari keluarga terdekat. Silaturahim dianjurkan dimulai dari keluarga terdekat yang ada hubungan darah. Rasulullah saw. telah mewanti-wanti orang yang suka memutus hubungan keluarga. Beliau saw. memberi kabar akan bahaya memutus keluarga. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya rahmat itu tidak diturunkan kepada kaum yang di dalamnya ada seorang pemutus keluarga.” (Riwayat Bukhari). Dalam riwayat lain Rasulullah saw. bersabda, “Tidak masuk surga orang yang memutus keluarga.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ketiga, menyambung hubungan dengan orang yang memutusnya. Rasulullah saw. menganjurkan agar seorang Muslim tetap berupaya menyambung tali silaturahim dengan karib kerabatnya, walaupun mereka selalu berupaya memutusnya. Orang yang berusaha melakukan ini akan mendapat pertolongan dari Allah swt.

Seorang Sahabat ra. berkata. “Wahai Rasulullah, saya mempunyai kerabat yang selalu saya menghubungi mereka tetapi mereka memutuskan saya, saya selalu berbuat kebaikan kepada mereka tetapi mereka berbuat jelek kepada saya, saya selalu sabar (santun) terhadap mereka tetapi mereka selalu berbuat bodoh terhadap saya. Maka Beliau bersabda, ‘Jika kamu benar seperti yang telah kamu katakan, maka seolah-olah kamu memberi makan mereka abu yang panas, dan penolong dari Allah atas mereka selalu menyertaimu selama kamu seperti itu.‘” (Riwayat Muslim)

Keempat, membawa sedekah saat silaturahim. Sedekah merupakan pintu silaturahim dan persaudaraan. Rasulullah saw. menganjurkan agar memberi sedekah kepada yang lain, termasuk orang yang membenci kita.

Sahabat ‘Uqbah bin Amir ra. pun mengungkapkan bahwa Rasulullah saw. pernah menasehati dirinya sebagai berikut. “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang pernah menahan pemberiannya kepadamu, dan memaafkan orang-orang yang pernah menganiayamu.” (Riwayat Hakim)

Dalam riwayat lain Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah yang diberikan kepada karib kerabat yang dibenci.” (Riwayat Al-Hakim)

Kelima, orang yang lebih muda sebaiknya mendatangi yang lebih tua, begitu juga seorang Muslim mendatangi yang lebih alim dan bertakwa.

Demikianlah beberapa adab silaturahim. Semoga bermanfaat.

Sumber: Suara Hidayatullah September 2012

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s