Muhammad Natsir Dalam Kenangan

Oleh: Taufik Ismail

Bagi sejarah, dia adalah guru bangsa, negarawan, pejuang, pemikir, penulis, cendekiawan, budayawan, politikus, pendidik ummat, mujahid da’wah, dan tokoh internaasional yang dihormati.

Bagi ayah dan ibunya, Anggui dan Uci, dia adalah anak kesayangan,

Bagi istrinya, Ummi Nurnahar, dialah suami penuh cinta partner perjuangan, 57 tahun , bagi anak-anaknya Siti Muchlisah, Abu Hanifah, Asma Fridah, Hasnah Faizah, Aisyahtul Asriah, Ahmad Fauzie, menantu dan cucu, dia adalah ayah, aba panggilan kesayangan, teladan kehidupan sukar tandingan,

Bagi HIS, MULO, dan AMS, tempatnya bersekolah di Solok, Padang, dan Bandung, dia adalah murid dari orang tua bukan pegawai terpadang, kecil dalam pendapatan, mencari kayu untuk memasak makanan, tapi cerdas, pekerja keras, dalam umur sangat mudah mudah menguasai banyak bahasa, yaitu Belanda, Inggris, Perancis Latin, dan Arab bahasa Quran, tentu saja.

Bagi perpustakaan sekolah AMS, dia adalah pembaca buku yang sangat tekun dengan disiplin luas biasa, satu buku seminggu dia tamatkan, tetap disempatkan di antara kesibukan menekuni pelajaran rutin keseharian,

Ada seorang guru Belanda yang mengejeknya karena konversasinya tidak lancar dalam bahasa tanah rendah itu. Natsir jengkel. Dia belajar mati-matian, tapi masih makan waktu mengejarnya ketinggalan. Dia ikut deklamasi, baca syair Multatuli, judulnya “De Banjir”, dengan latihan habis-habisan. Sehabis deklamasi tepuk tangan riuh sekali, dan Natsir juara pertama, mendapat hadiah buku Westenenk. Guru Belanda itu juga bertepuk tangan, tapi lambar-lambat dan enggan.

Di kelas 5 AMS ketemu lagi dia guru itu, yang mengajar ilmu ekonomi. Sang guru sangat sinis pada gerakan politik kebangsaan. Dia menantang murid siapa berani membahas masalah pengaruh penanaman tebu dan pabrik gula bagi rakyat di Pulau Jawa. Yang mengacungkan tangan Cuma Natsir. Dia diberi waktu dua minggu menuliskannya. Dia pergi ke bibliotik Gedung Sate, cari notulen perdebatan di Volksraad, menggali majalah-majalah kaum pergerakan, mengumpulkan statistik. Makalh dibacakannya di kelas 40 menit. Natsir membuktikan bahwa rakyat di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak mendapat keuntungan dari pabrik gula. Yang untung besar adalah kapitalis Belanda dan bupati-bupati, yang menekan rakyat menyewakan tanah mereka dengan harga rendah, menjadikan rakyat jadi buruh pabrik terikat upah rendah dan terbelit hutang senantiasa. Seluruh kelas sunyi senyap ketika Natsir remaja membacakan makalahnya. Wajah guru Belanda itu suram. Dia tidak menduga sama sekali ada murid kelas 5 AMS, setara dengan siswa kelas 2 SMA kini, mampu membuat analisa semacam itu dalam Bahasa Belanda yang rapih.

Tapi Natsir remaja tidak melulu jadi kutu buku. Di Bandung itu, petang subuh sesudah mandi sore-sore dia memakai baj berketrika, pantaloon panjang dan jas tertutup, jalan kaki dari Cihapit bermalam Minggu. Makan sate Madura di kedai Madrawi depan kantor polisi. Keliling sebentar di Pasar Baru, pulang lewat Hotel Homann. Di depan sana dia mendengar orkes hotel melantunkan lagu demi lagu. Mendengar biola digesek, dia ingin latihan biola lagi, tapi dia tahan hobi yang satu ini, karena dia masih konsentrasi ingin mendapatkan angka 9 untuk bahasa latin. Dan angka 9 itu tercapai.

Persentuhannya dengan Ustadz Hassan Bandung, risau pada pengaruh literature Barat pada teman-teman sebayanya, bergabung dengan Jong Islamieten Bond, perkenalan dengan Kasman Singodimedjo, Mohamad Roem, Prawoto Mangkusasnito, menyebabkan anak muda ini tidak tertarik melanjutkan studinya setamat AMS. Padahal yang laing memukau tamatan AMS adalah menjaddi Meester in de Rechten, S-1 ilmu hokum. Natsir tidak tertarik. Dia ingin segera mendidik bangsa. Dengan hati-hati dia member tahu orangtuanya, Anngui dan Uci. Alhamdulillah ayah dan ibunya setuju pada cita-citanya.

Bagi bangunan di Bandung, Jalan Lengkong Baru 16 no 74, cita-cita pendidikan anak muda ini direalisasikannya dengan susah payah melalui lembaga pendidikan Islam, Pendik, yang meliputi TK, HIS, dan MULO selama 10 tahun. Anak muda ini kemudian melejit dalam interaksinya dengan Soekarno melalui polemiknya yang legendaries, yang memantapkan orientasi nasionalisme religiusnya yang membedakannya dari orientasi nasionalisme sekuler.

Sesama pejuang masa itu bahu-membahu menentang kolonialisme, tapi sebagian nasionalis mengejek-ejek poligami, haji, dan fikih dalam islam, sehingga terjadi perdebatan besar. Namun Soekarno lawan debatnya ketika diadili Belanda sebelum dibuang ke Ende, tetap gigih dibela Natsir.

Di zaman revolusi dia aktif dalam Komite Nasional Indonesia Pusat, tiga kali menjadi Menteri Penerangan dan sekali menjadi Perdana Menteri. Memimpin Masjumi, berjuang melalui PRRI melawan sentralisme yang didukung PKI, dan untuk itu habishabisan direpresi. Sementara itu di dunia islam kepemimpinannya luas biasa dihargai. Memasuki ruangan, Raja Faishal berdiri menyongsong kedatanngan Natsir, menyalami dan memeluknya.

Bagi Negara, dialah yang lebih dari setengah abad yang lewat, selepas pengakuan kedaulatan di masa gawat, ketika situasi nasional terancam perpecahan, dengan Mosi Integralnya dia mengukuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan momen 15 Agustus 1950 itu dikenang sebagai Proklamasi Kedua Republik Indonesia.

Bagi rakyat, dia adalah menteri yang jasnya bertambal, mobil pribadinya DeSoto berwarna kusam dan menggeleng ditawari Chevy Impala, dialah Perdana Menteri yang menolak kelebihan dana taktis yang disumbangkannya kepada koperasi pegawai, dialah pemimpin ummat yang kantong kemejanya bernoda bekas tinta, Perdana Menteri yang pernah boncengan naik sepeda dengan sopirnya, yang ahli warisnya tak mampu membayar pajak rumah peninggalannya di kawasan Menteng.

Bagi kita sulit memahami sikap terbukanya. Bersama dengan kawan segenerasinya, walau betapa besar beda pendapat dengan lawan politik, itu tidak menghalangi persahabatan sebagai manusia. Sehabis pidato politik panas tentang dasar Negara di Majelis Konstituante, Natsir dan Aidit duduk makan siang bersama menikmati sate ayam. Begitu pula Isa Anshary dengan Aidit, Muhammad Roem dengan IJ Kasimo.

Bagi bangsa, akan sukar sekali mencari teladan kesederhanaan gaya hidup pribadi dan keluarga, kesantunan dalam setiap lapis pergaulan, kerendahan suara dalam perdebatan, bersih dan tertib dalam lalu lintas keuangan, dalam masalah materi tidak mencatat keserakahan, dalam perilaku politik senantiasa menghormati etika, dalam akhlak segi mana pun mendekati sempurna, disimpulkan dalam senyum teduh di wajah karena getaran kalbu yang illahiah,

Rabbana, Rabbana, Rabbana, jangan biarkan kami menunggu seratus tahun lagi, untuk tibanya pemimpin-pemimpin bangsa, yang mencerahkan dan bercahaya kilai-kemilai, serupa beliau.

Jakarta, 18 Juli 2008

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s