Menjadi Objek Bully

Sudah menjadi kebiasaan budaya bully membully di pergaulan anak-anak sekolahan. Ada 2 tipe bully menurut saya: 1) bully beneran yang jahat (banyak di sinetron2) 2) bully main-main tapi ya kadang jahat juga (di antara teman).

Dan memang mem-bully teman itu enak. Paling ya saling bully ndak sampe adu jotos. Kalau di antar cowok, bully-nya paling tentang sepakbola. Kalau tim kesukaannya kalah, ya siap-siap dibully :).

Bully yang lain juga bisa ngolok sifat atau kelakuan. Ada yang karena satu kejadian dibully terus sampai sisa hidupnya. Ada yang dibully tanpa alasan yang jelas. Pokoknya bully, rame-rame. 🙂 Seneng aja deh pokoknya bully orang.

Nah entah dosa apa saya termasuk menjadi objek bully. Sejak SMA saya mulai dibully karena masalah umur. Saya kadang dipanggil “orang tua” atau “mbah” sama temen2. Muka saya dibilang boros. 🙂 Dan sampai kuliah sekarang ini.

Menjadi objek bully kadang tidak menyenangkan. Tapi kalo ada kesempatan bales bully, langsung sikat. Enak. 🙂 Yang penting, bully itu ada kadarnya. Jangan terlalu nyakit. Kita juga harus pandai merasa-rasa suasana hati teman. Kalau suasana hatinya baik, baru bully. 🙂

Tak apalah menjadi objek bully, daripada terlalu serius. Saya pasrah deh. Salam bully. 🙂

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under My Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s