Jadi kapan kita ke pantai?


Saya sudah membeli kamera tahan air. Sunblock bisa kita beli sebelum berangkat. Handuk selalu tersedia, dan kita selalu percaya bahwa minuman kaleng adalah teknologi. Jadi kapan kita ke pantai?

Saya butuh dibohongi, seperti laut yang berpura-pura biru, padahal dia tidak berwarna. Seperti langit yang berpura-pura cerah, lalu berubah keemasan, padahal sebenarnya hitam. Seperti kapal layar yang terlihat membesar di cakrawala, padahal dia selalu kecil dan siap ditelan ombak.

Saya akan menyiapkan bekal dalam keranjang dan topi jerami. Tapi jika itu berlebihan, saya hanya akan memotret ikan. Lalu kita, dengan snorkel. Mungkin matahari, sebagai pembohong, sekaligus penafkah terbaik bagi bumi. Karang-karang dan kulit kerang. Saya akan memotret laut dangkal.

Jadi kapan kita ke pantai?

Saya butuh menulis di pasir. Menulis satu-dua kata tentang ketidak-ikhlasan. Agar semua hilang ketika pasang datang dan kita pulang.

Sumber

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s