Category Archives: Tulisan

Date a girl who reads

Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes. She has problems with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag.She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she finds the book she wants. You see the weird chick sniffing the pages of an old book in a second hand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow.

She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.

Buy her another cup of coffee.

Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.

It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas and for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry, in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

She has to give it a shot somehow.

Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who understand that all things will come to end. That you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilightseries.

If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.

You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.

Or better yet, date a girl who writes.

Sumber

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan

Perempuan di sudut nol

Sunday Sharing Diary

IMG_20130324_072428

Pagi ini saya beserta Moy kebagian jatah meng”cover” rute selatan. Di rute yang jarang saya tempuh ini, motor saya mulai bergerak membawa dua bungkus plastik. Setiap pertemuan pembagian bungkus nasi kepada kawan-kawan loperman, selalu ada cerita yang berbeda dan unik. Setiap bertemu, saya akan tanyakan bagaimana kabar para loperman. Bertanya tentang penjualan hari ini, kondisi keluarga, dan sebagainya.

Ah!

Saya takkan cerita banyak. Karena jika dituliskan tentu saja  tulisan ini akan jadi terlalu panjang untuk dibaca. Kembali ke perjalanan saya. Ujung rute selatan (maaf ya, saya tidak tahu nama tempatnya) ada cukup banyak loperman di setiap sudutnya. Sebagian besar adalah wanita dan orang *maaf* cacat. Berhubung saya cuma berdua bareng Moy, tidak ada dokumentasi yang bisa saya abadikan. Oh iya, biasanya dokumentasi foto atau video itu diambil secara sembunyi-sembunyi dan tidak terang-terangan lho. Soalnya agak sedikit tidak sopan kalau harus ambil secara langsung.

Di suatu sudut perempatan tadi  saya siapkan…

Lihat pos aslinya 552 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan

Cintaku Ibarat Tajwid

  • Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah.., hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.
  • Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billagunnah, terlihat tapi dianggap tak ada.
  • Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang.
  • Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.
  • Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain, melebur jadi satu.
  • Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil, paling panjang di antara yang lainnya.
  • Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro, terpantul-pantul dengan keras.
  • Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.
  • Sayangku padamu seperti mad thobi’I dalam Quran. Buanyaaakkk beneerrrrr.
  • Semoga dalam hubungan kita ini kayak idgham bilagunnah ya,cuma berdua, lam dan ro’.
  • Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. Dia atau aku?
  • Meski perhatianku ga terlihat kaya alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas.
  • Kau dan aku seperti Idghom Mutaqorribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya.
  • Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim, terhenti sempurna di akhir hayat.
  • Sama halnya dengan Mad ‘aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.
  • Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di pikiranku.
  • Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro’ saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.
  • Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun.

Sumber: http://ahmadkrishar.tumblr.com/post/46582677678/cintaku-ibarat-tajwid

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan

Penggusuran Di Mana-mana

Image

http://www.pressphoto.co/penggusuran-di-pasar-minggu-2.html

Kalian tak pernah tahu
bahwa gubuk kardus kecilku
dibangun dari lebam, darah dan air mata
yang dibasahi dan dikeringkan oleh sinar surya

Karena kalian cuma tahu
bahwa vila besarmu itu
dibangun dari kertas buku
berwarna merah dan biru

Kalian tak pernah tahu
bahwa gubuk kardus kecilku
adalah warung dan ruang tamu
yang menjaga hidup terus berlalu

Karena kalian cuma tahu
gubukku memang bau nasi basi
dan botol, plastik bertebaran tak tentu
dengan kucing berlarian kesana kemari

Kalian tak pernah tahu
kami makan, berak dan menangis sendu
saat para pembeli terakhir pulang
dan sebelum tamu pertama esok datang

Karena kalian tidak mau tahu
kami mengadu nasib jauh ke sini
karena tanah kami jadi rebutanmu
dengan menebar kertas warna warni
Hanya karena kalian takut api
Tapi tidak peduli dengan hati sanubari

Kalian tak pernah tahu
dan kalian tidak mau tahu
beratnya nasib kami di sini
dan lebih beratnya bila pulang
karena di kampung hanya ada plang
“tanah ini milik pengembang”

Oleh: Suma Miharja, 2013

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan

Kerendahan Hati

Oleh: Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit, jadilah belukar,

tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput,
tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil,
tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

1 Komentar

Filed under Tulisan

Muhammad Natsir Dalam Kenangan

Oleh: Taufik Ismail

Bagi sejarah, dia adalah guru bangsa, negarawan, pejuang, pemikir, penulis, cendekiawan, budayawan, politikus, pendidik ummat, mujahid da’wah, dan tokoh internaasional yang dihormati.

Bagi ayah dan ibunya, Anggui dan Uci, dia adalah anak kesayangan,

Bagi istrinya, Ummi Nurnahar, dialah suami penuh cinta partner perjuangan, 57 tahun , bagi anak-anaknya Siti Muchlisah, Abu Hanifah, Asma Fridah, Hasnah Faizah, Aisyahtul Asriah, Ahmad Fauzie, menantu dan cucu, dia adalah ayah, aba panggilan kesayangan, teladan kehidupan sukar tandingan,

Bagi HIS, MULO, dan AMS, tempatnya bersekolah di Solok, Padang, dan Bandung, dia adalah murid dari orang tua bukan pegawai terpadang, kecil dalam pendapatan, mencari kayu untuk memasak makanan, tapi cerdas, pekerja keras, dalam umur sangat mudah mudah menguasai banyak bahasa, yaitu Belanda, Inggris, Perancis Latin, dan Arab bahasa Quran, tentu saja.

Bagi perpustakaan sekolah AMS, dia adalah pembaca buku yang sangat tekun dengan disiplin luas biasa, satu buku seminggu dia tamatkan, tetap disempatkan di antara kesibukan menekuni pelajaran rutin keseharian,

Ada seorang guru Belanda yang mengejeknya karena konversasinya tidak lancar dalam bahasa tanah rendah itu. Natsir jengkel. Dia belajar mati-matian, tapi masih makan waktu mengejarnya ketinggalan. Dia ikut deklamasi, baca syair Multatuli, judulnya “De Banjir”, dengan latihan habis-habisan. Sehabis deklamasi tepuk tangan riuh sekali, dan Natsir juara pertama, mendapat hadiah buku Westenenk. Guru Belanda itu juga bertepuk tangan, tapi lambar-lambat dan enggan.

Di kelas 5 AMS ketemu lagi dia guru itu, yang mengajar ilmu ekonomi. Sang guru sangat sinis pada gerakan politik kebangsaan. Dia menantang murid siapa berani membahas masalah pengaruh penanaman tebu dan pabrik gula bagi rakyat di Pulau Jawa. Yang mengacungkan tangan Cuma Natsir. Dia diberi waktu dua minggu menuliskannya. Dia pergi ke bibliotik Gedung Sate, cari notulen perdebatan di Volksraad, menggali majalah-majalah kaum pergerakan, mengumpulkan statistik. Makalh dibacakannya di kelas 40 menit. Natsir membuktikan bahwa rakyat di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak mendapat keuntungan dari pabrik gula. Yang untung besar adalah kapitalis Belanda dan bupati-bupati, yang menekan rakyat menyewakan tanah mereka dengan harga rendah, menjadikan rakyat jadi buruh pabrik terikat upah rendah dan terbelit hutang senantiasa. Seluruh kelas sunyi senyap ketika Natsir remaja membacakan makalahnya. Wajah guru Belanda itu suram. Dia tidak menduga sama sekali ada murid kelas 5 AMS, setara dengan siswa kelas 2 SMA kini, mampu membuat analisa semacam itu dalam Bahasa Belanda yang rapih.

Tapi Natsir remaja tidak melulu jadi kutu buku. Di Bandung itu, petang subuh sesudah mandi sore-sore dia memakai baj berketrika, pantaloon panjang dan jas tertutup, jalan kaki dari Cihapit bermalam Minggu. Makan sate Madura di kedai Madrawi depan kantor polisi. Keliling sebentar di Pasar Baru, pulang lewat Hotel Homann. Di depan sana dia mendengar orkes hotel melantunkan lagu demi lagu. Mendengar biola digesek, dia ingin latihan biola lagi, tapi dia tahan hobi yang satu ini, karena dia masih konsentrasi ingin mendapatkan angka 9 untuk bahasa latin. Dan angka 9 itu tercapai.

Persentuhannya dengan Ustadz Hassan Bandung, risau pada pengaruh literature Barat pada teman-teman sebayanya, bergabung dengan Jong Islamieten Bond, perkenalan dengan Kasman Singodimedjo, Mohamad Roem, Prawoto Mangkusasnito, menyebabkan anak muda ini tidak tertarik melanjutkan studinya setamat AMS. Padahal yang laing memukau tamatan AMS adalah menjaddi Meester in de Rechten, S-1 ilmu hokum. Natsir tidak tertarik. Dia ingin segera mendidik bangsa. Dengan hati-hati dia member tahu orangtuanya, Anngui dan Uci. Alhamdulillah ayah dan ibunya setuju pada cita-citanya.

Bagi bangunan di Bandung, Jalan Lengkong Baru 16 no 74, cita-cita pendidikan anak muda ini direalisasikannya dengan susah payah melalui lembaga pendidikan Islam, Pendik, yang meliputi TK, HIS, dan MULO selama 10 tahun. Anak muda ini kemudian melejit dalam interaksinya dengan Soekarno melalui polemiknya yang legendaries, yang memantapkan orientasi nasionalisme religiusnya yang membedakannya dari orientasi nasionalisme sekuler.

Sesama pejuang masa itu bahu-membahu menentang kolonialisme, tapi sebagian nasionalis mengejek-ejek poligami, haji, dan fikih dalam islam, sehingga terjadi perdebatan besar. Namun Soekarno lawan debatnya ketika diadili Belanda sebelum dibuang ke Ende, tetap gigih dibela Natsir.

Di zaman revolusi dia aktif dalam Komite Nasional Indonesia Pusat, tiga kali menjadi Menteri Penerangan dan sekali menjadi Perdana Menteri. Memimpin Masjumi, berjuang melalui PRRI melawan sentralisme yang didukung PKI, dan untuk itu habishabisan direpresi. Sementara itu di dunia islam kepemimpinannya luas biasa dihargai. Memasuki ruangan, Raja Faishal berdiri menyongsong kedatanngan Natsir, menyalami dan memeluknya.

Bagi Negara, dialah yang lebih dari setengah abad yang lewat, selepas pengakuan kedaulatan di masa gawat, ketika situasi nasional terancam perpecahan, dengan Mosi Integralnya dia mengukuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan momen 15 Agustus 1950 itu dikenang sebagai Proklamasi Kedua Republik Indonesia.

Bagi rakyat, dia adalah menteri yang jasnya bertambal, mobil pribadinya DeSoto berwarna kusam dan menggeleng ditawari Chevy Impala, dialah Perdana Menteri yang menolak kelebihan dana taktis yang disumbangkannya kepada koperasi pegawai, dialah pemimpin ummat yang kantong kemejanya bernoda bekas tinta, Perdana Menteri yang pernah boncengan naik sepeda dengan sopirnya, yang ahli warisnya tak mampu membayar pajak rumah peninggalannya di kawasan Menteng.

Bagi kita sulit memahami sikap terbukanya. Bersama dengan kawan segenerasinya, walau betapa besar beda pendapat dengan lawan politik, itu tidak menghalangi persahabatan sebagai manusia. Sehabis pidato politik panas tentang dasar Negara di Majelis Konstituante, Natsir dan Aidit duduk makan siang bersama menikmati sate ayam. Begitu pula Isa Anshary dengan Aidit, Muhammad Roem dengan IJ Kasimo.

Bagi bangsa, akan sukar sekali mencari teladan kesederhanaan gaya hidup pribadi dan keluarga, kesantunan dalam setiap lapis pergaulan, kerendahan suara dalam perdebatan, bersih dan tertib dalam lalu lintas keuangan, dalam masalah materi tidak mencatat keserakahan, dalam perilaku politik senantiasa menghormati etika, dalam akhlak segi mana pun mendekati sempurna, disimpulkan dalam senyum teduh di wajah karena getaran kalbu yang illahiah,

Rabbana, Rabbana, Rabbana, jangan biarkan kami menunggu seratus tahun lagi, untuk tibanya pemimpin-pemimpin bangsa, yang mencerahkan dan bercahaya kilai-kemilai, serupa beliau.

Jakarta, 18 Juli 2008

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan

1000 Kata Untuk Relawan Bandung

Oleh: Ridwan Kamil

Kawan-kawan yang penyabar

Hidup di Bandung hari ini adalah hidup penuh dengan kegelisahan sekaligus membingungkan. Dulu saya berasumsi bahwa seiring detik, menit dan jam kehidupan yang bergerak ke arah masa depan, tentunya hadir pula kemajuan dan kegembiraan mengiringi hidup kita di kota ini. Ternyata saya terlalu naif. Seiring waktu, justru penggalan demi penggalan kemunduran dan kesemrawutan hadir membombardir nalar dan mata kita. Ada pertanyaan penting yang setiap hari menggugat kita: Mau dibawa kemana hari esok dan masa depan kita?

Berita tentang korupsi, setiap hari, adalah wajah buruk dari mundurnya peradaban negeri ini. Negeri dan kota ini dimiskinkan oleh mereka-mereka yang mencuri. Tanpa sadar mereka telah mencuri masa depan anak cucu mereka sendiri. Hidup tanpa visi, mengakibatkan lingkungan kota ini pun perlahan hancur atas nama lokomotif ekonomi. Kota Bandung memang sedang sakit. Ciri kota sakit adalah pemerintahnya koruptif, pebisnisnya oportunis dan kaum intelektualnya apatis. Kita tengah terjebak disana.

Bandung hari ini adalah Bandung yang padat, ramai juga mencemaskan. Kita semua berlari berebutan di atas kapasitas infrastruktur kota yang sama seperti dua puluh tahun lalu. Setiap kehadiran pembangunan baru akan mendesak badan kota ke arah kesakitan. Setiap musim penghujan kita dicemaskan oleh banjir melanda jalanan Bandung. Setiap akhir pekan kita sering harus mengalah kepada tamu-tamu yang berdatangan. Ada kelelahan demi kelelahan hadir di sudut sanubari kita. Sampai kapan?

Bandung hari ini adalah Bandung yang sakit dan sesak. Sepanjang mata memandang yang terlihat adalah kesemrawutan dan pelanggaran aturan. Pelanggaran menjadi hal yang lumrah di kota ini, karena semua berjamaah melakukannya. Bandung hari ini ibarat sebuah rumah kecil yang sangat sesak. Bandung dahulu hanya diimajinasikan sebagai ruang kehidupan bagi 300 ribu jiwa. Dengan migrasi dan ledakan penduduk sebanyak 2,4 juta hari ini maka bermukim di Bandung adalah sebuah perlombaan survival. Tanpa kendali kota ini akan meledak. Kota yang stres akan melahirkan generasi yang stres.

Kawan-kawan yang bersemangat,

Ingatlah Sumpah Pemuda. Dahulu, 1928, pemuda bersatu mendobrak nilai-nilai belenggu penjajahan karena kita dihinakan oleh yang lain. Sekarang kita dihinakan oleh ulah kita sendiri. Karenanya di jaman yang sakit ini, kita harus bergerak bersatu untuk merekonstruksi nilai-nilai baru masa depan. Kita harus menjadi cerdas untuk mampu bersaing. Kita harus peduli untuk menjadi solusi. Dengan kecerdasan dan kepedulian kita mampu mendorong lompatan peradaban Indonesia ke garis batas baru. Ya kawan-kawan, kita bangun Indonesia Baru melalui sebuah rumah bernama Bandung. Dari Bandung untuk Indonesia.

Saat kita kecewa kita tidak boleh membisu. Saat kita dihinakan kita tidak boleh diam. Kita harus bergerak cepat mencari jalan baru. Mengubah dunia sudah tidak bisa dilakukan sendirian. Jalan baru mengubah dunia itu bernama kolaborasi. Kolaborsi adalah kunci pintu sebuah rumah bernama masyarakat madani. Kolaborasi adalah sebuah pola pikir bahwa hanya kita sendiri yang seyogianya mengubah nasib buruk kita. Kota kita adalah tanggung jawab kita sendiri.

Di hari Rabu yang dingin di tahun 2013 ini, di sebuah kota bernama Pennsylvania, saya diamanati sebuah penghargaan. Di atas panggung, Eugenie Birch, Direktur IUR, organisasi pemberi award ini, berkata: “Kami terinspirasi oleh semangat Bandung”. Semangat ini tercermin ketika sebuah kampung, Blok Tempe, di Bandung, 2 tahun lalu mampu menyelesaikan sendiri masalah banjirnya. Warga Blok Tempe mampu mengelola sampah, air dan asuransi kesehatannya sendiri. Di sisi lain, sekumpulan anak muda kreatif dalam wadah Bandung Creative City Forum (BCCF) terus bergerak mencari ragam solusi kreatif untuk masalah kota Bandung.

Semangat Bandung hari ini adalah semangat survival dan kekompakan warganya. Semangat ini adalah energi luar biasa. Gotong royong par excelence. Dan dunia pun mengamatinya. Dan dunia pun menghargainya dengan Urban Leadership Award yang dititipkan kepada saya. Award ini adalah untuk semangat Bandung. Semangat yang menginspirasi dunia.

Kawan-kawan yang peduli,Selama tiga tahun terakhir, mungkin lebih dari seratus kali saya bersilaturahmi dengan ragam warga, komunitas dan sesepuh-sesepuh kota Bandung. Yang saya lakukan hanya satu: mencoba menjadi pendengar yang baik. Kesimpulannya juga satu: mereka punya aspirasi dan mimpi untuk hidup, bernapas, beraktivitas di kota Bandung yang nyaman dan bermartabat. Dan sejujurnya, mimpi sederhana ini pula yang hari ini belum hadir di kota ini.

Juni tahun 2013, tahun ini, Bandung akan menyelenggarakan pergantian kepemimpinan kotanya. Di hari-hari ini kita berdiri pada sebuah persimpangan nasib. Apakah kita hanya berdiri di pinggir mengamati kemunduran kota yang melahirkan Indonesia ini? Atau memberanikan diri melompat ke barisan depan untuk ikut menentukan masa depan kota yang pernah menginspirasi Asia dan Afrika ini?

Dengan segala keterbatasan dan kerendahan hati, ijinkan saya berjuang untuk mewujudkan mimpi sederhana nan mulia tadi dengan berkompetisi dalam pemilihan Walikota Bandung 2013-2018. Ibu saya selalu memberi pesan, jadilah manusia terbaik. Manusia yang sudah cukup dengan ego dirinya. Manusia yang konsisten untuk selalu bermanfaat bagi mereka di luar dirinya. Niat saya ingin berkerja, memberikan yang terbaik untuk negeri ini, negeri tempat saya menyusu dan meminum air tanah bumi pertiwi ini.

Kawan-kawan yang baik,

Mewujudkan mimpi ini tidak bisa dilakukan sendirian. Saya butuh Anda semua. Kita butuh kita semua. Kita optimis bisa merebut masa depan kita yang lebih baik. Apa guna hidup jika kita tidak optimis. Saya yakin kita bisa!

Selama 100 hari ke depan kita akan bergerak bersama. Selama 100 hari ke depan kita akan merapatkan barisan. Selama 100 pagi ke depan kita akan menyingsingkan lengan baju kita. Selama 100 siang ke depan kita perkuat tekad kita. Selama 100 sore ke depan kita perterteguh niat baik kita. Selama 100 malam ke depan kita curahkan gagasan-gagasan kita. Dan selama 100 subuh ke depan kita perbanyak doa-doa kita. Allah selalu bersama mereka yang berusaha.

Dari lubuk hati yang terdalam, saya mengucapkan berjuta terima kasih bagi kawan-kawan yang mau percaya: dengan menyisihkan waktu dan energi, bergabung dalam barisan ini.

Kata orang bijak, daripada selalu mengutuki kegelapan lebih baik menyalakan lilin-lilin kecil. Sekarang saatnya kita hadirkan nyala lilin-lilin itu untuk masa depan yang terang bagi anak-anak kita. Saya bermimpi, jika di suatu pagi di hari Minggu yang cerah di tahun 2018, di saat kita mengantar anak-anak kita bermain di taman kota, saya ingin Anda berkata: “Ya Allah, Tuhanku, ternyata 5 tahun lalu itu waktuku untuk jadi relawan tidaklah sia-sia”.

Mari bergerak kawan-kawan. Ada kereta mimpi yang harus kita kejar.

Malam sunyi, Maret 2013

Jabat Erat

Ridwan Kamil

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan