Category Archives: Adab

Tiga Panduan dalam Berdoa

Zakat Center PKPU Cabang Surabaya

Dalam masalah doa, Rasulullah memberikan tiga panduan. Yang pertama adalah tidak tergesa-gesa. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah, “Dikabulkan bagi seseorang di antara kalian selagi dia tidak tergesa-gesa mengatakan, “Aku telah berdoa, tetapi masih belum diperkenankan juga bagiku.” (HR. Imam Malik)

Hal ini karena memang Allah memiliki rahasia tersendiri yang mungkin tidak kita sadari sehingga panduan keduaialah selalu berprasangka baik kepada Allah. Hal ini karena Rasulullah sendiri pernah menyampaikannya.

Tiada seorang muslim pun yang memanjatkan suatu doa keapda Allah yang di dalamnya tidak mengandung permintaan yang berdosa dan tidak pula memutuskan silaturahim, melainkan Allah pasti memberinya berkat doa itu salah satu dari tiga perkara berikut, yaitu: Adakalanya permohonannya itu segera dikabulkannya, adakalanya permohonannya itu disimpan oleh Allah untuknya kelak di hari kemudian, dan adakalanya dipalingkan darinya suatu keburukan yang semisal dengan permohonannya itu. Mereka (para sahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.” Nabi Saw. menjawab, “Allah Maha Banyak…

Lihat pos aslinya 93 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Adab Silaturahim

Silaturahim merupakan amalan yang dianjurkan oleh Islam. Rasulullah saw. mengungkapkan bahwa orang yang gemar bersilaturahim akan diluaskan rezeki dan dipanjangkan usianya. Beliau saw. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menyambung tali silaturahim…” (Riwayat Bukhari)

Berikut beberapa adab yang perlu diperharikan agar silaturahim memberi manfaat dunia dan akhirat.

Pertama, niat ikhlas. Seseorang yang melakukan silaturahim hendaknya diniatkan untuk mencari ridha Allah semata. Allah swt. berfirman, “Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (Al-Lail[92]: 19 – 20)

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menengok orang sakit atau menziarahi saudaranya karena Allah Ta’ala, maka datanglah penyeru yang menyerukan; ‘Engkau baik, dan langkahmu juga baik dan engkau akan masuk surga sebagai tempat tinggal.” (Riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kedua, memulai dari keluarga terdekat. Silaturahim dianjurkan dimulai dari keluarga terdekat yang ada hubungan darah. Rasulullah saw. telah mewanti-wanti orang yang suka memutus hubungan keluarga. Beliau saw. memberi kabar akan bahaya memutus keluarga. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya rahmat itu tidak diturunkan kepada kaum yang di dalamnya ada seorang pemutus keluarga.” (Riwayat Bukhari). Dalam riwayat lain Rasulullah saw. bersabda, “Tidak masuk surga orang yang memutus keluarga.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ketiga, menyambung hubungan dengan orang yang memutusnya. Rasulullah saw. menganjurkan agar seorang Muslim tetap berupaya menyambung tali silaturahim dengan karib kerabatnya, walaupun mereka selalu berupaya memutusnya. Orang yang berusaha melakukan ini akan mendapat pertolongan dari Allah swt.

Seorang Sahabat ra. berkata. “Wahai Rasulullah, saya mempunyai kerabat yang selalu saya menghubungi mereka tetapi mereka memutuskan saya, saya selalu berbuat kebaikan kepada mereka tetapi mereka berbuat jelek kepada saya, saya selalu sabar (santun) terhadap mereka tetapi mereka selalu berbuat bodoh terhadap saya. Maka Beliau bersabda, ‘Jika kamu benar seperti yang telah kamu katakan, maka seolah-olah kamu memberi makan mereka abu yang panas, dan penolong dari Allah atas mereka selalu menyertaimu selama kamu seperti itu.‘” (Riwayat Muslim)

Keempat, membawa sedekah saat silaturahim. Sedekah merupakan pintu silaturahim dan persaudaraan. Rasulullah saw. menganjurkan agar memberi sedekah kepada yang lain, termasuk orang yang membenci kita.

Sahabat ‘Uqbah bin Amir ra. pun mengungkapkan bahwa Rasulullah saw. pernah menasehati dirinya sebagai berikut. “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang pernah menahan pemberiannya kepadamu, dan memaafkan orang-orang yang pernah menganiayamu.” (Riwayat Hakim)

Dalam riwayat lain Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah yang diberikan kepada karib kerabat yang dibenci.” (Riwayat Al-Hakim)

Kelima, orang yang lebih muda sebaiknya mendatangi yang lebih tua, begitu juga seorang Muslim mendatangi yang lebih alim dan bertakwa.

Demikianlah beberapa adab silaturahim. Semoga bermanfaat.

Sumber: Suara Hidayatullah September 2012

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Adab Mengucap Salam

Mengucapkan salam termasuk perbuatan sunnah, sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), ”Ucapkanlah salam, baik kapada siapa saja yang engkau kenal dan yang tidak.” (Riwayat Bukhari).

Adapun membalas salam hukumnya fardhu kifayah. Jika ada seorang dari sebuah kelompok telah menjawab, maka gugurlah kewajiban yang lain. Demikian menurut para ulama.

Jika hukum pengamalannya sudah jelas, bagaimana dengan tata cara dan adab-adabnya?

Mengucapkan Salam, Saat Bertemu dan Berpisah
”Jika saudaranya terhalang oleh pohon atau dinding, kemudian ia bertemu, maka hendaknya ia mengucapkan salam kepada saudaranya itu.” (Riwayat Abu Dawud)

Salam Hendaknya Didengar Pihak yang Diberi Salam
Dijelaskan dalam Hadits riwayat Bukhari, jika Rasulullah SAW mengucap salam, maka salam beliau tidak membangunkan orang tidur, akan tetapi terdengar oleh mereka yang terjaga.

Salam Secara Lengkap Lebih Baik
Seseorang mengucap salam, hendaknya ia ucapkan dengan lengkap, ”assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”. Tetapi, jika hanya mengucapkan “assalamu’alaikum”, maka perbuatan itu masih dibolehkan. Namun ketika seseorang mengucapkan salam, disunnahkan untuk menjawabnya dengan salam yang lebih lengkap atau sama.

”Jika kalian disalami, dengan ucapan selamat, maka balaslah dengan ucapan yang lebih baik atau serupa.” (An-Nisa [4]: 86)

Mengucapkan Salam Sebelum Mengucapkan yang Lain
Dianjurkan agar seseorang mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum mengucapkan perkataan lainnya. Ini didasari atas perbuatan para salaf dan generasi setelah mereka, sebagaimana disebutkan Imam An Nawawi.

Segera Bersalam Sebelum Didahului yang lain
“Jika ada dua orang, maka yang paling baik di antara keduanya adalah siapa yang terlebih dahulu mengucapkan salam.” (Riwayat Bukhari)

Yang Muda Bersalam kepada yang Tua
”Yang kecil menyalami yang besar, yang berjalan menyalami yang duduk dan yang sedikit menyalami yang banyak.” (Riwayat Bukhari)

Hindari Salam kepada Mereka yang Membuang Hajat
Para ulama menilai, mengucap salam kepada mereka yang sedang buang hajat, berada di kamar mandi, berjima’ atau pada seseorang yang sedang makan, sedangkan di mulutnya masih dipenuhi makanan adalah makruh. Para ulama menilai, perbuatan itu bertentangan dengan etika dan kesopanan.

Tidak Bersalam kepada Orang Kafir
”Janganlah kalian dahuli mengucap salam kepada Yahudi dan Nashara.” (Riwayat Muslim)

Cuma, para ulama masih berselisih pendapat, apakah larangan itu sampai derajat haram atau makruh. Dan orang-orang kafir jika mengucapkan salam, maka jawaban yang diberikan kepada mereka adalah, ”waalaikum”. Itu sebagaimana dijelaskan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Bukhari.

Namun, jika dalam sebuah kelompok bercampur antara orang Muslim dan kafir, maka dibolehkan mengucap salam, dengan niat bahwa salam itu ditujukan kepada mereka yang Muslim, karena Rasulullah SAW sendiri pernah melakukannya, sebagaimana di sebutkan dalam Hadits riwayat Bukhari.

Tidak Bersalam kepada Ahli Maksiat
Imam Bukhari berpendapat, tidak perlu mengucap salam kepada palaku dosa besar. Dasarnya, Rasulullah SAW melarang beberapa sahabat berbicara dan mengucap salam kepada Ka’ab bin Malik, disebabkan ia tidak ikut serta dalam perang Tabuk.

Bukhari juga berdalil dengan pernyataan Abdullah bin Amru, ”Janganlah kalian mengucap salam kepada peminum khamr.”

Boleh Bersalam kepada Lawan Jenis Jika Aman dari Fitnah
Dari Asma binti Yazid, “Rasulullah SAW melewati kami, dan beliau mengucapkan salam.” (Riwayat Tirmidzi)

Para ulama menjelaskan, dibolehkannya mengucap salam kepada lawan jenis, terikat dengan syarat, yakni kedua pihak yakin bahwa perbuatan itu tidak membuat mereka terkena fitnah.

Sumber: Suara Hidayatullah April 2009

Tinggalkan komentar

Filed under Adab