Category Archives: Ibrah

Ghirah

Mujahid Kecil

Mungkin banyak yang sudah melupakan buku Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam karya Buya Hamka. Buku itu memang tipis saja, nampak tidak sebanding dengan koleksi masif seperti Tafsir Al Azhar, namun tipisnya buku tidak identik dengan kurangnya isi, apalagi pendeknya visi. Sesuai judulnya, buku tersebut membahas masalah-masalah seputar ghirah dengan bercermin pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Meskipun buku ini diterbitkan pada awal tahun 1980-an, pada kenyataannya masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil untuk dipraktekkan dalam kehidupan di masa kini.

Buya Hamka memulai uraiannya dengan sebuah kasus yang dijumpainya di Medan pada tahun 1938. Seorang pemuda ditangkap karena membunuh seorang pemuda lain yang telah berbuat tidak senonoh dengan saudara perempuannya. Sang pemuda pembunuh itu pun dihukum 15 tahun penjara. Akan tetapi, tidak sebagaimana narapidana pada umumnya, sang pemuda menerima hukuman dengan kepala tegak, bahkan penuh kebanggaan. Menurutnya, 15 tahun di penjara karena membela kehormatan keluarga jauh lebih mulia daripada hidup…

Lihat pos aslinya 1.055 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Ibrah

Romantis adalah…

“Sebelum menikah denganmu, aku pernah mencintai seseorang.” kata Fatimah. “Siapa?” tanya Ali. “Engkau.” jawab Fatimah.

– dari Menyimak Kicau Merajut Makna (Salim A. Fillah)

Tinggalkan komentar

Filed under Ibrah

Membangun Kebaikan

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Asma Nadia

Mengapa banyak mal, toko buku besar, bioskop, hotel, serta perkantoran megah, memiliki mushala tak layak, hanya menampung dua tiga orang, terkadang berada di bawah tangga, sehingga sulit untuk berdiri tegak saat beribadah.

Dan, ini terus berlangsung meski staf dan pengunjung tempat- tempat tersebut mayoritas Muslim. Padahal, ruang yang disediakan bagi para perokok, biasanya cukup mewah dengan lokasi strategis, dekat lobi, meski tidak maksimal digunakan.

Mengapa film-film dan berbagai tontonan yang baik dan mendidik hanya sedikit yang benar-benar menuai sukses? Mengapa iklan-iklan tidak pantas tetap menghiasi televisi di perhelatan akbar olahraga dunia, walaupun banyak mata anak-anak dan remaja yang menonton?

Mengapa buku- buku bagus, sangat inspiratif bagi pembaca, minim penjualannya? Mengapa banyak pengusaha kecil yang fokus mengembangkan produk dalam negeri berkualitas, mengembalikan sebagian keuntungan yang diraihnya untuk masyarakat, usahanya tidak berjalan lancar?

Lima pertanyaan, ada sederet penjelasan, tapi semua jawaban mengerucut pada satu hal: terlalu banyak orang baik yang diam. Jika menginginkan dunia yang semakin dingin, asing, egois, dan kapitalis ini berubah, maka salah satu yang harus dilakukan adalah mendorong orang-orang baik `berbicara’.

Dunia membutuhkan barisan aktif, yang tidak pelit memberi apresiasi dan tidak tinggal diam saat melihat hal-hal yang bisa diubah ke arah lebih baik, sekalipun dia dan keluarga mungkin tak bersentuhan langsung dengan kondisi dan situasi tidak ideal tersebut.

Bayangkan jika pengunjung department store mewah, saat melihat mushala sempit, terpencil, jauh di area parkiran atau basement, menyempatkan diri menyampaikan keluhan ke bagian informasi atau menemui pihak manajemen. Jika dua menit kemudian ada orang lain melakukan hal yang sama, lalu di menit-menit berikutnya keluhan senada tentang mushala terus disampaikan, disertai uploadfoto mushala memprihatinkan tersebut lewat ponsel ke berbagai social media.

Jika setiap hari hal ini dijalankan, insya Allah akan tercipta sebuah perubahan. Kecuali pertokoan mewah tersebut memang tidak berniat membuat mayoritas pengunjung mereka nyaman dan kerasan. Tetap, masyarakat bisa bicara, mengambil langkah- langkah pendekatan ke pemerintah setempat untuk memberi perhatian, lewat demonstrasi yang santun, atau bukan mustahil melalui jalur hukum.

Hal yang sama akan terjadi jika setiap penonton yang menyaksikan film Indonesia berkualitas tak hanya diam, melainkan rajin memberi rekomendasi melalui status Twitter dan Facebook. Mengajak sekitar untuk ikut menonton. Pun giat melakukan protes mulai dari surat pembaca, mention stasiun televisi terkait di social media ketika ada tayangan sinetron dan iklan tak layak.

Ketika pembaca mendapatkan ba nyak sekali pencerahan dari sebuah buku, kemudian aktif mengajak keluarga, sahabat, dan siapa saja yang dikenal atau berada dalam jejaring sosialnya untuk ikut mendapat manfaat.

Insya Allah akan menggerakkan pembaca lain untuk melirik buku si penulis. Penjualan yang meningkat tidak hanya memudahkan proses kreatif penulisnya, sekaligus memotivasi penulis- penulis lain di Tanah Air untuk bergeser dari karya-karya yang kurang punya nilai ke tulisan yang mencerahkan.

Sayangnya, kebanyakan orang baru terusik tatkala kesulitan menyentuh wilayah pribadi, kerabat, teman dekat, atau orang- orang yang kebetulan mempunyai andil dalam hidupnya. Padahal, kebaikan seharusnya tidak digerakkan oleh hal-hal sentimentil atau berdasarkan perhitungan- perhitungan untung rugi.

Terlebih bagi yang memiliki pengaruh, kekuasaan, popularitas, pendeknya sumber daya apa pun yang bisa mempercepat terwujudnya sebuah perubahan.
Maksimalkan potensi dalam amanah yang sedang disandang, sebagai investasi untuk begitu banyak jejak kebaikan tak hanya bagi kita, tetapi juga generasi masa depan, kelak.

Pepatah Arab mengatakan:
berdiam dari kebenaran yang dirusak, bak setan yang membisu.
Sudah saatnya bangun dari kediaman. Lebih baik lagi jika melibatkan anak dan pasangan.
Menjadikan berbagai semangat perubahan sebagai agenda keluarga.

Dari Abu Sari al-Khudri RA, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, `Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.”

Jangan berhenti pada selemah-lemahnya iman, tanpa lebih dulu usaha, minimal bicara. Tetap meluruskan ketidaksempurnaan yang berada dalam jangkauan, betapapun terasa seperti usaha yang sia-sia, karena kita bukan siapa-siapa. Tetapi, jutaan orang-orang biasa insya Allah, dengan kebersamaan dan kesatuan tekad, akan bisa mengubah keadaan.

Tinggalkan komentar

Filed under Ibrah, Islam

Kami Rindu Padamu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Karna pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukecup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu

Ya Rasulullah Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami rindu padamu
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudekap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya tuhan saja yang tahu

Kutahu cintamu kepada umat
Umati kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu

Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kurniakanlah syafaatmu

Tinggalkan komentar

Filed under Ibrah

Sang Penyemangat Jihad

The Other Side of Me

Masih teringat jelas

berat suara nafasmu

perlahan,

tertahan,

beradu dengan langkah sayupmu

kala kau pulang pukul 03.47

kemudian disusul dengan suara asing dari channel TV kesukaanmu

atau suara bisikan bibirmu mengucap, kala kau membaca buku

atau tawa lepasmu yang menyusul tepat beberapa menit, setelah suara telfonmu mendayu…

 

Masih teringat jelas, Ayah…

kelembutan sekaligus lelah yang tertahan dan terpaksa terpancar disorot matamu

kala kami pagi hendak berangkat sekolah,

pelukan hangatmu yang seolah tidak risih akan gerak – gerik kami yang membangunkanmu dari lelapmu yang baru…

serta kecupan manismu dikening kami yang seolah membayar segala rindu yang memang telah tertahan, sejak kemarin – kemarin…

 

Segalanya masih teringat jelas, Ayah

jelas betul dalam ingatan kami..

tak peduli, bahwa segalanya kini diperantarai oleh selembar dua lembar kertas surat…

dan terkadang, tanpa tersentuh indra kehangatanmu sama sekali..

segalanya, masih teringat jelas…

 

Kemudian malam itu,

ketika tangan – tangan asing wartawan;

menarik,

mendorong,

Lihat pos aslinya 402 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Ibrah

Pemimpin, Gelar yang Berasal dari Bawah Bukan dari Atas

Zakat Center PKPU Cabang Surabaya

voluntarily follow“Jadilah pemimpin yang diikuti oleh banyak orang dengan sukarela; meskipun kau tidak memiliki gelar atau jabatan.” Sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Brian Tracy, seorang pakar motivasi dan kepemimpinan.

Sahabatku, sekarang ini, banyak orang yang merasa layak menjadi pemimpin saat memiliki gelar atau jabatan. Ia merasa menjadi orang yang harus diikuti karena ia memiliki keuntungan, keahlian dan kemampuan yang lebih dari orang lain.

Padahal pemimpin yang sejati sadar bahwa dia tidak ingin mencari pengikut. Dengan perilaku dan tindakannya selama ini, banyak orang dengan sendirinya bersedia mengikuti. Ia hanya menjadi dirinya sendiri.

Jadi keputusan untuk menjadi pemimpin bukan kehendak pemimpin itu. Yang memutuskan adalah mereka yang bersedia menjadi pengikutnya. Mereka melihat orang yang memang layak menjadi panutan.

Maka banyak orang yang pintar, cerdas, brilian, memiliki banyak kemampuan, namun masih belum layak menjadi pemimpin. Karena tidak ada orang yang bersedia mengikutinya.

Dan yang menjadikan dia menjadi pemimpin bukan atasannya. Ketika seseorang ditunjuk oleh…

Lihat pos aslinya 103 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Ibrah

Cinta Bersemi di Pelaminan

papanbiru

Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.

Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.

Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh sang istri tuan rumah. Karena buta…

Lihat pos aslinya 256 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Ibrah