Category Archives: Karya

Ya, nanti kalau aku sudah menjadi suamimu

tidak akan ada lagi sekat-sekat ini

tak akan lagi ada jarak-jarak ini

nanti

tidak perlu lagi malu-malu seperti ini lagi

tak perlu ada lagi gelisah-gelisah yang tak terjawab seperti ini lagi

lihat saja nanti, ya

kalau aku sudah menjadi suamimu

tidak akan ada yang tak tersampaikan lagi seperti kata-kata ini

tidak akan ada kebisuan, sunyi senyap perasaan lagi

ya, yang sabar

ketika waktunya sampai nanti

tak perlu lagi tulisan ini hanyalah tulisan ini,

akan berganti menjadi tindakan-tindakan pembuktian

maka bertahanlah

sampai tiba waktunya nanti

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Karya

[Cerpen] Melepaskan

Kamu tahu apa yang lebih indah dari jatuh cinta?

—-

Semenjak menerima undangan pernikahannya dengan seseorang, hatiku remuk. Kucoba rangkai berbagai alasan untuk menerima akal sehat. Ia memang bukan untukku.

Sore ini H-2 pernikahannya. Ia meminta bertemu di sebuah kedai kopi langganan berdua.

“Aku mau mengucapkan terima kasih. Untuk selama ini.”

“Kamu bisa mengucapkannya kapan saja. Kenapa hari ini?”

“Di pernikahanku, aku mohon kamu datang.”

Lihat sendu mata itu. Mengapa aku mencintainya, ia selalu bisa jujur dengan perasaannya.

“Aku mungkin akan datang.” Aku tak yakin.

Aku melihatnya menarik nafas berat yang berusaha ia samarkan. Matanya semakin sendu.

“Hei, aku pasti datang.” Aku meraih tangannya. “Bagaimana bisa aku tidak datang, kamu selalu sahabatku, dan seterusnya.”

Aku melihat bulir air mata jatuh di kedua pipinya. Perempuan di depanku ini, ia hanya tidak ingin kehilangan dua-duanya, cinta dan sahabat terbaiknya.

Sementara aku, harus memilih satu.

—-

Yaitu melepaskan.

Tinggalkan komentar

Filed under Karya

[Puisi] Visual Studio

Visual Studio

Tinggalkan komentar

Mei 6, 2013 · 12:51 pm

[Cerpen] Selama Itu

“Oke sekarang to the point ya. Tentu ada alasan khusus aku meminta bertemu denganmu berdua di tempat seperti ini.”

“Okay.. apa itu?”

“Kita sudah mengenal lama. Walau jarang bertemu, kita selalu kontak. Dan selama itu aku telah menyimpan rasa. Aku menyukaimu. Aku harap kamu sudah membacanya selama ini.”

“Selama itu juga aku sudah tahu, ada perasaan, mungkin kamu menyukaiku. Aku tidak mau ke-geer-an. Tapi oke aku bisa membacanya, cara-caramu menunjukkannya.”

“Kamu menerimaku?”

“Caramu menyukaiku, membuatku selama itu berharap dan selama itu menunggu. Kamu tahu rasanya menunggu seseorang?”

“Maaf untuk itu. Mulai sekarang, kamu tidak perlu menunggu lagi.”

(menarik nafas dalam) “Aku dilamar orang lain beberapa hari yang lalu. Aku sudah menerimanya.”

Tinggalkan komentar

Filed under Karya

Aku Masih Ingat

Bila kamu bertanya kapan pertama kali aku melihatmu dan jatuh hati, aku masih ingat. Akan ku jelaskan pula detail tempat dan kejadiannya.

Bila kamu bertanya sudah berapa kali aku sengaja menunggu di ujung lorong sekolah itu, untuk sekedar tak sengaja menemuimu, aku masih ingat jumlahnya.

Bila kamu bertanya pada tepat jam berapa menit berapa aku akhirnya mengungkap rasaku padamu, aku masih ingat. Akan kuceritakan pula se-grogi apa aku sebelumnya, yang kamu tak pernah tahu.

Bila kamu bertanya dimana pertama kali kita melakukan kencan pertama kita, aku masih ingat. Akan kuberitahu juga warna baju dan rok yang kamu kenakan waktu itu. Aku tentu ingat.

Bila kamu juga bertanya kejadian-kejadian konyol yang pernah kita lalui bersama, aku masih ingat. Sedetail itu.

Bila kamu bertanya bagaimana sebisanya aku menjadi tempat menampung segala gundah hidupmu, aku tentu masih ingat. Tiap kesedihanmu dan komplainmu terhadap dunia, aku masih ingat.

Bila kamu bertanya mengapa aku tidak menahanmu, ketika kamu memilih untuk pergi, aku juga masih ingat. Bila kamu memberi waktu, akan kujelaskan apa yang tidak dapat kujelaskan waktu itu.

Tapi kamu tidak pernah bertanya. Dan sepertinya aku akan tetap mengingatnya.

Tinggalkan komentar

Filed under Karya

Aku Ingin Ingin Ingin

Aku ingin mencintaimu

seperti langit mencintai awan

menaungi

Aku ingin mencintaimu

seperti matahari mencintai bumi

menerangi

Aku ingin mencintaimu

seperti tanah mencintai air

meresapi

Aku ingin mencintaimu

seperti bulan mencintai bintang

menemani

Aku ingin mencintaimu

seperti pelangi mencintai hujan

menyertai

Aku ingin mencintaimu

seperti udara mencintai atmosfer

mengisi

Tinggalkan komentar

Filed under Karya

Menunggu untuk Mencintai

Tiba-tiba seorang sahabat bertanya, “Apakah kamu masih mencintainya?”.

Pertanyaan ini bukan yang pertama saya dengar. Pertanyaan ini sudah muncul berkali-kali, datang dari hati saya sendiri. Namun saya tidak pernah sanggup menjawabnya. Setiap kali menerbitkan keragu-raguan.

Sebagian hati saya mungkin menjawab “Tidak.” Ini agak berbau ego, tapi bisa saja masuk akal. Untuk semua yang sudah terjadi, ini bisa menjadi jawaban yang sah-sah saja.

Sementara sebagian hati saya yang lain bisa saja menjawab “Iya”. Mungkin benar, rasa tidak bisa serta merta gugur begitu saja. Mungkin juga ini alasan sahabatku itu bertanya. Ia memang selalu pandai membaca gelagat saya lebih dari siapa pun.

Untuk itu saya ragu sekali lagi. Maka saya buat begini saja. Saya mungkin sedang menunggu, untuk mencintainya, sekali lagi. Tapi saya juga bisa berhenti menunggu, kapan saja.

Tinggalkan komentar

Filed under Karya