Category Archives: Kutipan Sastra

Lif. Jangan ber…

Lif. Jangan bermain-main dengan hati perempuan. Hatinya dalam dan sensitif, bisa menghanyutkan dan menenggelamkan. Tapi juga tangguh, bisa menguatkan, menumbuhkan, dan menjelmakan mimpi-mimpi kita. Hati perempuan bisa memaafkan, tapi tidak bisa melupakan apa yang pernah singgah di pedalaman hatinya. Kalau tidak serius, jangan main-main.

Rantau 1 Muara

Tinggalkan komentar

Juli 22, 2013 · 1:21 pm

Kami hanya bert…

Kami hanya bertegur sapa sekedarnya, selebihnya aku pengamat dan pengagum dia dari jauh.

Rantau 1 Muara

Tinggalkan komentar

Juli 22, 2013 · 7:29 am

Jadi kapan kita ke pantai?


Saya sudah membeli kamera tahan air. Sunblock bisa kita beli sebelum berangkat. Handuk selalu tersedia, dan kita selalu percaya bahwa minuman kaleng adalah teknologi. Jadi kapan kita ke pantai?

Saya butuh dibohongi, seperti laut yang berpura-pura biru, padahal dia tidak berwarna. Seperti langit yang berpura-pura cerah, lalu berubah keemasan, padahal sebenarnya hitam. Seperti kapal layar yang terlihat membesar di cakrawala, padahal dia selalu kecil dan siap ditelan ombak.

Saya akan menyiapkan bekal dalam keranjang dan topi jerami. Tapi jika itu berlebihan, saya hanya akan memotret ikan. Lalu kita, dengan snorkel. Mungkin matahari, sebagai pembohong, sekaligus penafkah terbaik bagi bumi. Karang-karang dan kulit kerang. Saya akan memotret laut dangkal.

Jadi kapan kita ke pantai?

Saya butuh menulis di pasir. Menulis satu-dua kata tentang ketidak-ikhlasan. Agar semua hilang ketika pasang datang dan kita pulang.

Sumber

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan Sastra

Out of Water

Will a shark

be as fearless

in a

forest?

Can the devil

survive

in heaven?

Will a tiger

still roar

on the face of

the moon,

or will it

whimper

more meekly

than

a lamb?

If the moon

can linger

on a morning

so bright,

why can’t

the sun

do the same

at night?

Yasmin Ahmad

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan Sastra

Gie – Puisi Cahaya Bulan

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih selembut dahulu…
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah Mandalawangi…
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu…
Saat kudekap kau dekaplah lebih mesra…
Lebih dekat…
Apakah kau masih akan berkata…
Kudengar detak jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam Cinta…
——————-

Cahaya Bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu
Dimana jawaban itu

Bagai letusan berapi
Bangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban… kegelisahan hati

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan Sastra

Puisi Rangga – Ada Apa Dengan Cinta

Ku lari ke hutan kemudian menyanyiku
ku lari ke pantai kemudian teriakku
sepi, sepi dan sendiri
aku benci

Aku ingin bingar
aku mau di pasar
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga
jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya
biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh

Ah…ada malaikat menyulam
jaring laba-laba belang
di tembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan
belok ke pantai

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan Sastra

Pada Suatu Hari Nanti – Sapardi Djoko Damono

Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari.

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan Sastra